Tadinya mau nulis tentang NCT Wish aja di postingan ini, tapi kayaknya akan jadi postingan yang terlalu pendek. Jadi aku putuskan untuk sekalian nulis tentang tontonan-tontonan lain juga seperti dorama dan series yang sudah aku tonton.
Pertama, NCT Wish pergi ke Paris untuk...kerja. YA APA LAGI YA KAN. Di kota yang punya stereotip sebagai kota romantis tersebut, mereka makan escargot dan onion soup.
Escargot ini bekicot kan ya?
Lalu kulineran berlanjut ke toko bernama Bachir. Di sana mereka beli es krim.
Tempat-tempat yang dikunjungi oleh enam (((pemuda))) ini adalah Musee du Louvre alias Museum Louvre (museum yang ada lukisan Monalisa yang tersohor itu) dan Eiffel Tower, of course. Kalau ke Paris nggak ke Menara Eiffel mending balik lagi.
Seingatku mereka nggak masuk ke Museum Louvre deh, cmiiw. Activity dengan durasi lama yang ditayangkan adalah ketika mereka naik cruise menyusuri sungai Seine. Nah, di atas cruise ini Sion dan Ryo ngobrol singkat tentang satu film.
Ryo yang mulai. Katanya dia teringat dengan satu film di Netflix tapi lupa judulnya apa. Pokoknya filmnya tentang ikan hiu di sungai Seine. Terus Sion nyambung dengan film yang dimaksud.
Sebagai penonton yang kepo, tentu saja aku googling film apa gerangan yang kira-kira dimaksud oleh Hirose Ryo. Pencarianku mengarah ke film Prancis yang berjudul Under Paris.
Inti dari film Under Paris adalah ikan hiu yang diperkirakan mengalami mutasi genetik akibat climate change sehingga dia mampu untuk hidup di air tawar dan berkembang biak secara partenogenesis. Ngeri nggak tuch.
Film ini dialognya dituturkan dalam bahasa Prancis. Cerita dimulai ketika sekelompok ilmuwan sedang mencari Lilith, seekor ikan hiu yang mereka pantau kehidupannya. Nyarinya di somewhere in Pacific ocean yang merupakan "sarang sampah" di lautan. Berasa gatal-gatal nontonnya karena airnya pasti kotor kan, huhuhuhu. *penting*
Lalu mereka menemukan Lilith yang bentuknya fisiknya di luar dugaan mereka. Terus ya yang bikin aku kayak ??? tuh mereka santai banget gitu berenang bersama beberapa ekor hiu. Cari perkara banget ya kaaan. Ya kalo gak cari perkara nanti nggak jadi film.
Bhaik.
Terus yaaa gitu deh, seperti halnya film-film tentang ikan hiu lainnya, adegan diserang hiu tentu saja ada. Yang aku suka adalah nggak banyak jumpscare nggak penting. Ceritanya sih menurutku nggak yang wah bagus banget gitu. Cenderung biasa aja. Kalau misal Ryo nggak nonton, mungkin aku nggak akan nonton film ini. Hehehe.
Pesan kuatnya menurutku adalah climate change can lead to an unexpected problems for us. Things that we never imagined. Bumi sih nggak akan kenapa-kenapa, lha wong sudah miliaran tahun eksis dengan berbagai dinamika fenomena alam. Yang akan bermasalah ya tentu saja manusia. Tentang kelayakan dan kenyamanan lingkungan untuk hidup manusia.
Sepertinya film ini akan ada sekuel. Tapi nggak tau akan tayang kapan. Di Netflix sudah muncul thumbnail-nya. Nonton lagi nggak? Idk. Maybe.
πΌπ¦π‘️
Kedua, tentang series One Piece season 2.
Episode-episode awal One Piece season 2 agak terasa lambat dan sedikit membosankan menurutku. Lama-lama jadi seru terutama di episode Big Problem in Little Garden. Ada satu tokoh yang namanya Nico Robin. Kekuatan hasil makan buah iblisnya serem astaga. Aku penasaran ngalahin dia tu kek mana caranya (btw ini bukan pertanyaan, wkwk).
Kalau di One Piece season 1 aku tersanji-sanji, di season 2 ini aku mulai tersepona dengan ketampanan Zoro. π Telat nggak? π Sanji di season 2 kayak meredup gitu di mataku, kenapa ya? Ya nggak kenapa-kenapa. Lagi ganti preferensi aja.
Anyway, aku selalu terkagum-kagum dengan dandanan para tokoh baru di One Piece. Seru gitu lihatnya, wih bagus ya kostum dan rambutnya, gitu. Sering tekan pause juga untuk ngecek gimana dandanan di komiknya. Dan emang mirip, nggak melenceng jauh. πππ
Oh iya, di season 2 ini akhirnya diceritakan juga tentang Tony Tony Chopper. Aku selalu penasaran dengan tokoh ini karena unik banget bentuknya rusa tapi berdiri di atas dua kaki seperti manusia. Agak sendu ternyata masa lalunya.
☠️π§⚓️
Terakhir, tentang dorama yang berjudul S&X.
Dorama S&X adalah doramanya Nakajima Kento. π«Ά Terakhir nonton dorama (((ayang))) udah lama banget tahun 2022. Awal-awal nonton S&X, aku bosan karena pace-nya lambat, hehehehe. Lama-lama bisa aku nikmati dengan naikin kecepatannya. π
S&X bercerita tentang seorang terapis seks, yang bernama Shimotori, yang bertemu dengan cinta masa SMP-nya, yaitu Ichinose yang seorang pembawa berita di TV. CANTIK BANGET ARAKI YUKOπ«Ά (yang meranin Ichinose).
Dorama ini bukan dorama yang isinya kowan-kawin, tapi lebih ke usaha membuka mata masyarakat yang belum tau bahwa profesi terapis seks itu berdasarkan ilmu pengetahuan kedokteran. Yang menjadi terapisnya seorang dokter yang sekolah di fakultas kedokteran. Punya ilmunya. Bukan orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan pasiennya.
Terapinya pun tidak disentuh secara fisik, lebih ke konsultasi psikis. Dicari akar masalahnya lalu diberikan resep dokter yang sesuai.
Selain itu, dorama ini juga mengangkat concern tentang voyeurism. Menampilkan perasaan para korban sehingga bisa memberi tau pelakunya bahwa perempuan-perempuan yang dia perlakukan tidak manusiawi itu manusia juga. Bukan objek. Punya perasaan dan harga diri yang terluka dengan tindakan voyeurism tersebut.
Banyak sih isu-isu yang diangkat di dorama ini selain dua yang sudah aku tulis tadi. Yang aku ingat lagi adalah tentang remaja perempuan yang akan dibawa ke kencan oleh laki-laki dewasa. Remaja kan otaknya masih dalam proses perkembangan ya, jadi masih belum bisa mikir cepat dalam keadaan bahaya semacam itu. Yang ada malah nge-freeze, speechless, padahal dia aslinya nggak mau pergi dari tempat ramai. Untungnya ada dokter Shimotori.
Selain kelainan voyeuristic, gangguan mental yang diangkat di dorama S&X adalah memperlakukan istrinya sebagai boneka miliknya, yang didandani sesuai standarnya tanpa memikirkan pendapat istrinya tersebut. Padahal istrinya sama dengan dirinya yang juga manusia, punya perasaan dan bukan objek.
Ichinose di tempat kerjanya juga dilabeli sebagai penyiar yang innocent dan harus menjaga image tersebut untuk masyarakat. Lah...kan dia nggak merasa dirinya innocent, nggak mau juga dipaksa menampilkan image tersebut terus-menerus karena nggak sesuai dengan kepribadian aslinya.
Selama nonton dorama ini aku sambil mikir...walaupun terus mengalami modernisasi, budaya patriarki masih ada saja di Jepang entah itu di lingkungan keluarga maupun di lingkungan profesional. Budaya patriarki sama-sama merugikan perempuan dan laki-laki.
*
No comments :
Post a Comment
Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.