May 4, 2015

[Fan Fiction] Dating Alone with Chanyeol (Part 1)


Lee Hojung sedang ada di perpustakaan kampus. Dia sibuk mencari buku referensi untuk tugas essai mata kuliah bahasa Inggris. Tugas itu membuatnya pusing.

“Hidupku kenapa selalu habis di perpustakaan begini. Oh umur 20 tahunku yang berharga...”, gerutu Hojung. “Aku harap ada seseorang yang mau mengerjakan essai ini untukku.”

Hojung menelusuri buku-buku yang ada di rak dengan jarinya. Dia menarik buku tebal tentang sejarah dinasti Cina untuk essainya dan majalah interior design kalau-kalau nanti bosan di tengah-tengah menulis essai.

“Eh?” Hojung melihat seorang cowok ganteng dari sela-sela buku di depannya. Cowok itu tertunduk serius membaca buku. Hojung memperhatikan lekuk-lekuk wajahnya. Sempurna sekali. Rambut lurus berponi yang tertata rapi, mata besar, hidung mancung, dan bibir yang minta banget untuk dicium. HAHAHAHAHA pikiran saya Hojung mulai kotor. Hojung terpesona dengan cowok itu.

Hojung berjalan menuju meja di depan tempat cowok itu membaca buku. Siapa ya namanya? Jurusan apa dia? Apa dia seniorku? Duh pingin kenalan deh, batin Hojung sambil terus memperhatikan cowok ganteng itu. Merasa ada yang melihat terus ke arahnya, cowok itu mendongak ke arah Hojung.


“Mati gue,” Hojung buru-buru menunduk sok-sok baca padahal tengsin abis. Otaknya sibuk mencari cara supaya bisa tau identitas cowok ganteng itu. Apa dia harus datang setiap hari ke perpustakaan berharap bisa bertemu lagi? Atau membeli minuman dan menempelkan nomor telepon di gelasnya? Jangan. Kalau dibaca orang yang salah bisa berabe.

Di luar dugaan Hojung, cowok ganteng itu tiba-tiba menenteng tas dan berjalan keluar perpustakaan. Hojung cepat-cepat membereskan buku-bukunya dan berjalan mengikuti cowok itu.

Cowok itu masuk ke sebuah ruangan.

Jurusan Arsitektur.

Hojung membaca tulisan di atas pintu ruangan yang tadi dimasuki cowok ganteng itu. Akhirnya dia tau cowok itu jurusan apa.

Beberapa hari kemudian, teman Hojung menghampiri Hojung yang siang itu duduk sendiri di taman. “Hojung, nanti malam aku dan dua orang temanku dari jurusan lain akan kencan buta dengan senior-senior jurusan arsitektur di kafe sebelah. Kau mau ikut?”

“Kencan buta?” Hojung balik bertanya.

“Iya, kau ikut tidak? Ayo ikut saja. Senior jurusan arsitektur keren-keren lho.”

“Emmm...baiklah.”

Hojung memperhatikan ketiga cowok jurusan aritektur di depannya. Enggak ada seorang pun yang menarik perhatiannya. Bukan karena kurang ganteng, hanya saja ketiga cowok itu bukan tipe Hojung. Hojung tiba-tiba teringat dengan cowok ganteng yang memesonanya di perpustakaan tempo hari, pikirannya melayang memikirkan cowok itu. Seandainya saja dia datang, batin Hojung.

“Maaf aku terlambat,” sebuah suara berat tapi seksi membuat Hojung mendongak.

Deg.

Dia datang beneran! Gue enggak mimpi kan ini? Ya ampun jodoh banget gue sama cowok ganteng ini, batin Hojung lebay.

“Oke kita mulai saja ya,” cowok yang sedari tadi memperhatikan Hojung membuka percakapan. “Silakan pilih satu di antara empat barang ini untuk menentukan siapa berpasangan dengan siapa,” lanjut cowok itu sembari mengeluarkan kunci mobil, botol rol film, ponsel, dan bolpoin. “Norak tapi fair, hehehe,” katanya lagi.

Hojung bingung harus memilih mana yang sekiranya adalah barang milik cowok ganteng yang datang terlambat tadi. Hojung menutup mata dan mengambil botol rol film.

“Botol rol film itu milikku,“ jantung Hojung hampir copot melihat cowong ganteng yang datang terlambat itu tersenyum ramah padanya. YA ALLAH ALHAMDULILLAH!!! Jackpot!

“Namaku Park Chanyeol, senang bertemu denganmu. Kau juniorku kan, namamu siapa?”

“Eh...aku...namaku Lee Hojung,” Hojung gugup tapi bahagia bukan main malam itu. Gila takdir banget ini ceritanya, kata Hojung dalam hati.

“Oh iya biar seru bagaimana kalau kita main bersama saja enggak usah berpasang-pasangan begini,” teman Hojung yang iri enggak berpasangan dengan Chanyeol tiba-tiba mengusulkan usulan yang annoying.

“Malam ini Chanyeol oppa ganteng banget ya, dia tipe idealku. Hihihi,” kata teman Hojung kepada Hojung. Cewek itu sibuk merapikan bedak, “Pokoknya aku harus cantik untuk Chanyeol oppa malam ini!”

Hojung nyengir jijik.

Chanyeol kembali dari toilet dan duduk di tempatnya semula, di sebelahnya sudah ada teman Hojung tadi. Cewek itu minum bir lalu pura-pura mabuk dan bersandar ke bahu Chanyeol.

WTF?! batin Hojung kesal. Ingin rasanya Hojung marah-marah dan membongkar kedok temannya yang pura-pura mabuk itu. Tapi dia menahan diri, takut kalau-kalau temannya itu malah nangis dan makin bersandar ke Chanyeol. Teman Hojung itu suka nekat kadang-kadang. Hojung memutuskan untuk memberi tahu pasangan temannya itu untuk mengantarkan temannya yang pura-pura mabuk itu pulang.

“Akhirnya bebas,” kata Chanyeol sambil meregangkan pundaknya yang pegal. “Kau ini manis sekali enggak ikut mabuk,” Chanyeol mengelus rambut Hojung, pipi Hojung bersemu merah.

Beberapa hari usai kencan buta malam itu Hojung memutuskan untuk bergabung dengan klub fotografi karena Chanyeol juga ikut klub itu. Hojung ingin sering bertemu dengan Chanyeol. 

Meskipun agak malu-malu, Hojung memberanikan diri masuk ke ruang klub fotografi siang itu. Pandangan Hojung menyapu seluruh sudut ruangan. Banyak sekali senior disana, mereka sedang sibuk. Hojung tidak melihat sosok cowok ganteng setinggi 185 cm di ruangan itu.

“Eh kau anak baru ya, mau gabung dengan klub kami? Ayo sini!” ketua klub fotografi menyadari kehadiran Hojung.

“I...iya,” jawab Hojung.

Tiba-tiba ada seseorang yang bangun dari tidur siangnya. Dia ada di belakang ketua klub. Chanyeol oppa!

“Hojung!” panggil Chanyeol, riang.

“Aku mau ikut klub fotografi,” Hojung tersenyum.

“Bagus! Nanti belajar denganku tentang fotografi,” Chanyeol mengedipkan mata ke arah Hojung. “Hyung, dia junior kita. Aku mengenalnya. Mana formulir pendaftaran untuknya?”

Hojung tidak salah pilih masuk klub fotografi. Senior-senior di klub itu baik-baik dan yang pasti dia bisa sering bertemu dengan Chanyeol.

Hari itu klub fotografi mengadakan rapat proyek fotografi bertema nature and people. Masing-masing akan dibagi menjadi beberapa tim beranggotakan satu senior dan satu junior. Ketua klub menyuruh Chanyeol untuk satu tim dengan Hojung karena Chanyeol sudah mengenal Hojung. Ketua klub berpikir kalau Hojung akan lebih mudah belajar dengan orang yang sudah dikenalnya.

Sabtu pagi Chanyeol dan Hojung sudah ada di sebuah taman untuk mengerjakan proyek fotografi bersama, Chanyeol menyuruh Hojung untuk memotretnya.

“Boleh aku lihat hasilnya?” Chanyeol mengambil kamera dari tangan Hojung. “Wah kau berbakat sekali menjadi fotografer. Hasilnya bagus-bagus,” Hojung tersenyum mendengar pujian dari Chanyeol. “Tapi ada beberapa yang zoom-nya terlalu dekat. Kepalaku jadi terlihat besar,” Chanyeol tertawa.

“Oh iya?” Hojung mendekat dan ikut melihat hasil fotonya. “Wah iya, hehehe. Aku akan belajar lagi.”

Chanyeol melihat wajah Hojung, “Hojung, sebentar.” Tangan Chanyeol menyentuh wajah Hojung, jantung Hojung berdebar kencang. “Bulu matamu jatuh, nanti kalau masuk ke mata bisa sakit,” Chanyeol ya pinter banget curi-curi kesempatan.

Kali ini giliran Chanyeol yang memotret Hojung. Chanyeol menginstruksikan Hojung untuk berpose cute, natural, dan seksi. Lagi-lagi Chanyeol sangat lihai mencuri kesempatan, ckckck.

“Ayo makan siang, aku lapar,” ajak Chanyeol.

Mereka berdua pergi ke sebuah rumah makan di dekat taman.

“Kalian berdua pasangan yang cocok sekali, cantik dan tampan,” kata bibi pemilik rumah makan sambil menghidangkan makanan yang dipesan Chanyeol dan Hojung.

“Terima kasih, Bu,” jawab Chanyeol tersenyum. “Ayo makan, Hojung.”

Chanyeol oppa sama sekali tidak keberatan dengan ucapan bibi tadi, jangan-jangan..., Hojung menebak-nebak dalam hati. Tapi dia diam saja pura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Bibi tadi mengira kita pasangan beneran, hahaha. Aku senang mendengarnya,” kata Chanyeol sambil terus makan tanpa memperhatikan wajah Hojung yang bersemu merah. Hojung tesenyum.

Sabtu pekan berikutnya, Chanyeol dan Hojung mengerjakan proyek fotografi bersama lagi. Kali ini tempatnya agak jauh jadi harus berangkat lebih pagi biar enggak ketinggalan bus. Chanyeol enggak bisa nahan kantuknya, dia kemudian tertidur di halte. Hojung melihat Chanyeol yang sedang tertidur. Kasihan Chanyeol oppa pasti dia capek, batin Hojung.

Hojung terus memperhatikan wajah Chanyeol, dia berpikir untuk mengajak Chanyeol ke penginapan yang hangat karena udara hari ini dingin sekali. Tapi Hojung mengurungkan niatnya itu, takut dikira pervert oleh Chanyeol.

Chanyeol oppa kayak bayi kalau tidur. Lucu. Apa aku cium saja ya pipinya? Hojung geleng-geleng kepala. “Apa sih yang kamu pikirkan, Hojung? Bodoh,” Hojung mengomeli dirinya sendiri. Udara dingin memaksa otaknya untuk berpikir macam-macam :)

Hojung menguap. “Ikutan tidur deh,” dia menyandar ke bahu Chanyeol.

Chanyeol tiba-tiba bergerak bangun, “Aduh pundakku mau copot!”

“Ma...maaf oppa aku tidak sengaja ikut ketiduran,” Hojung ngeles.

Chanyeol memijit-mijit pundaknya dan pura-pura nyengir kesakitan tapi kemudian tersenyum, “Ngomong-ngomong kau pakai sampo apa? Wanginya aku suka.”

Proyek fotografi nature and people sukses terlaksana. Sore itu semua anggota klub fotografi berkumpul di ruangan. Chanyeol bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Anak ganteng itu memang berbakat jadi musisi.

“Untuk merayakan kesuksesan program kita kemarin, hari ini mari bersenang-senang  minum soju bersama!” kata ketua klub dan disambut sorak gembira anggota lainnya.

“Bosen nih, main truth game aja yuk,” ajak wakil ketua klub. Semua setuju. “Baiklah aku mulai,” dia memutar botol soju kosong. Botol berhenti berputar dan mulut botol mengarah ke Sangjoon.

Wakil ketua klub bertanya, “Sangjoon, apakah di klub ini ada seseorang yang kau suka?”

“Ada,” jawab Sangjoon mantap. Sangjoon melihat ke arah Hojung.

Hojung sedikit kaget. Jangan-jangan lo suka gue? perasaan Hojung enggak enak. Sangjoon tetap melihat ke arahnya. Beneran?! Aduh please jangan suka gue, suka yang lain aja, Hojung memohon dalam hati. Sayangnya Sangjoon bukan pembaca hati orang jadi dia enggak paham maksud Hojung.

“Ciye Sangjoon suka Hojung ciye,” anggota klub lain menyoraki mereka berdua.

“Kencan! Kencan! Kencan!” sorakan mereka semakin membabi buta. Sangjoon senyum-senyum malu sementara Hojung melirik ke arah Chanyeol. Chanyeol murung.

“Maaf Sangjoon oppa, aku suka dengan orang lain,” Hojung akhirnya buka mulut.

Sangjoon mematung untuk beberapa saat. Antara tengsin dan tidak percaya. “Oh...i...iya...Hojung...eng...enggak apa-apa kok,” Sangjoon terbata-bata. “Ayo minum lagi semua.”

Hojung melirik Chanyeol lagi. Ekspresi Chanyeol enggak semurung tadi, dia meminum sisa soju di gelasnya. Sebuah senyuman tersungging di bibir Chanyeol.

Beberapa hari kemudian.

Jam menunjukkan pukul 12 malam. Hojung masih belum tidur, dia melihat-lihat hasil foto di taman bersama Chanyeol dulu. Hojung senyum-senyum sendiri melihat foto-foto Chanyeol. Emang ya orang kalau lagi jatuh cinta bisa kayak orang gila.

Ponsel Hojung berbunyi.

Ada pesan masuk.

Dari Chanyeol.

‘Hojung, belum tidur?’

Hojung mangap tidak percaya apa yang dibacanya. “Gue harus bales apa nih? Aduh gue harus bales apaaa??” Hojung bingung sendiri.

Setelah berpikir sejenak, Hojung mengetik ‘Belum aku masih mengerjakan tugas’ kemudian dihapus. Dia mengetik lagi ‘Belum aku ingin keluar minum soju nih, ikut enggak?’ FREAK! Dihapus lagi.

“Duh harus bales apa nih?? Apa enggak usah dibales ya pura-pura sudah tidur terus besok gue telfon? Aduh basi ah,” Hojung ngomong sendiri.

Akhirnya dia mengetik ‘Belum’ dan menyentuh tanda send.

Pesan balasan Chanyeol masuk, Hojung cepat-cepat membukanya.

‘Cepat sana tidur. Sampai jumpa besok.’

Malam ini, emmm...dini hari ini sepertinya Hojung akan mimpi indah.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment